History

Sejalan dengan perubahan yang terjadi di IPB, pada tahun 2004 Program Studi-Budidaya Hutan (PS-BDH) menjadi salah satu program studi yang dikembangkan dalam penataan departemen. Berdasarkan Surat Keputusan Rektor IPB No. 112/K13/OT/2005 pada tanggal 2 Agustus 2005, PS-BDH menjadi di bawah pengelolaan Departemen Silvikultur (DSVK) sebagai Departemen Silvikultur pertama di Indonesia di antara 36 Departemen yang ada di IPB. Adapun mandat dari DSVK sebagai pengampu Departemen Silvikultur adalah pengembangan ilmu dan teknologi silvikultur yang diperlukan unuk membina hutan alam serta membangun dan membina hutan tanaman secara berkelanjutan berbasis ekosistem. Sementara itu, pernyataan kompetensi dari DSVK adalah mampu menerapkan ilmu dan teknologi silvikultur untuk menjamin fungsi ekologis, kesehatan dan produktivitas ekosistem hutan sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai hutan yang diinginkan secara berkelanjutan.

Secara operasional DSVK baru berjalan pada semester ganjil tahun 2005 dimana struktur organisasi (Ketua dan Sekretaris Departemen, serta staf penunjang) sudah terbentuk dan penerimaan mahasiswa telah dilaksanakan. Pada tahun-tahun awal beroperasinya DSVK, kegiatan masih didominasi oleh penataan manajemen internal sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi di IPB di seluruh bidang. Tetapi pada tahun 2008, operasional DSVK telah berjalan lancar, bahkan dalam usianya yang baru 3 tahun telah mendapatkan akreditasi A dari BAN-PT.

Secara hukum DSVK baru terbentuk pada pertengahan tahun 2005, namun sesungguhnya sejak IPB berdiri pada tahun 1963 secara substansi DSVK telah ada yaitu sebagai Sub-Program Studi Pembinaan Hutan kemudian meningkat menjadi Program Studi Budidaya Hutan dibawah Jurusan Manajemen Hutan sampai tahun 2005. Oleh karena itu, fasilitas telah tersedia dan sumberdaya manusia, khususnya staf pengajar telah dikenal dan memiliki prestasi ditingkat Nasional maupun Internasional. Laboran yang bekerja di laboratorium-laboratorium di bawah DSVK juga telah memiliki pengalaman yang panjang dalam mengelola laboratorium untuk membantu pelaksanaan praktikum dan penelitian. Staf administrasi sebagian besar berasal dari Jurusan Manajemen Hutan yang telah memiliki pengalaman kegiatan administrasi pendidikan, kepegawaian, keuangan, dan administrasi umum. Dengan demikian dalam waktu yang relatif singkat, DSVK telah dapat dijalankan dengan relatif lancar.

Tantangan terbesar DSVK adalah belum dikenalnya Departemen ini dimasyarakat. Istilah “Silvikultur” tidak dapat diterjemahkan dengan kalimat yang singkat. Silvikultur sering disejajarkan dengan istilah budidaya hutan, namun sesungguhnya silvikultur memiliki arti yang jauh lebih luas dari budidaya hutan. Budidaya hutan sendiri selalu diasosiasikan dengan kegiatan bercocok tanam pohon hutan, sehingga lebih membuat DSVK kurang diminati. Namun seiring dengan waktu, setelah memiliki mahasiswa dan Himpunan Profesi yang berinteraksi dengan mahasiswa baru atau dengan adik-adik kelas di SMA-nya, juga promosi Departemen melalui berbagai kegiatan telah menambah peminat yang masuk ke DSVK.